Hingga remaja, Rich Enuol, hidup bersama suku terisolasi yang tinggal di hutan hujan tropis Vietnam. Dia hidup tanpa listrik, tidur di bawah atap jerami, dan tidak pernah menggunakan toilet siram. Saat ini, Enuol tinggal di Massachusetts bersama istrinya yang merupakan warga negara Amerika Serikat, menjalani kehidupan yang benar benar berbeda dari kehidupan yang pernah dia lalui semasa kecil.

"Hidup sangat berbeda. Tidak ada teknologi. Saya tidak punya ponsel. Tidak ada satupun gedung pencakar langit. Pada dasarnya saya tinggal di hutan," katanya kepada Business Insider. Lantas, bagaimana kehidupan Enuol selama hidup di suku terisolasi? Kehidupan Enuol di hutan hujan tropis dataran tinggi Vietnam sangat berbeda dengan kehidupannya saat ini.

Enuol adalah bagian dari suku Degar (juga dikenal sebagai Montagnard), kumpulan suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Vietnam. Setelah berjumlah jutaan, populasinya menyusut hingga ratusan ribu setelah Perang Vietnam. Sejak saat itu, penduduk suku Degar terus merosot.

Perubahan iklim, penggundulan hutan, dan penganiayaan yang semuanya diprakarsai pemerintah telah mengancam cara hidup Degar. Ibu Enuol meninggal ketika dia masih kecil, ia dan saudara saudaranya akhirnya tinggal bersama bibi dan pamannya di desa terpencil. Selama ia tumbuh dewasa, suku tempat Enuol tinggal mempraktikkan hortikultura skala kecil, menjadi pemburu, dan mencari sumber daya hutan.

Pakaian yang ia gunakan berbahan kapas yang dipanen oleh masyarakat. Kehidupan suku suku terisolasi telah menjadi daya tarik dalam beberapa pekan terakhir, menyusul kematian misionaris Amerika John Allen Chau, yang dibunuh oleh suku terpencil yang tinggal di Pulau Sentinel, India. Suku Sentinel secara historis tidak terbuka untuk orang luar.

Insiden tersebut memicu kontroversi terkait etika berinterkasi dengan komunitas adat terpencil. "Saya mulai melihat penindasan ini terjadi dalam hidup saya, selama masa kanak kanak saya. Tanah itu bukan milik mereka," katanya. Enuol pertama kali mengetahui betapa berbedanya kehidupan di luar hutan hujan tropis saat ia berada di kamp pengungsi Kamboja.

"Rasanya seperti saya berada di planet yang sama sekali berbeda. Orang orangnya, bahasanya, dan saya terkejut melihat segalanya, mulai dari toilet, eskalator, hingga pesawat. Aneh sekali." kata Enuol. Seorang warga Amerika Serikat yang bekerja di kamp mengajarkan Enuol Bahasa Inggris. Kemudian pada tahun 2000, dia mengajukan permohonan suaka politik di AS.

Dia pindah ke Washington State dan lulus dari sekolah menengah. Enuol kemudian kuliah di Appalachian State University di North Carolina dan memperoleh kewarganegaraan Amerika. Dia sekarang tinggal di Massachusetts bersama istrinya dan bekerja sebagai pengelola lokasi untuk organisasi nirlaba yang membantu orang orang dengan gangguan perkembangan.

Pada 2013, berkat kampanye GoFundMe , Enuol kembali ke lokasi desanya dulu. Dia terkejut menemukan daerah itu benar benar berubah, dan banyak hutan ditebangi. "Hutan tempat saya dibesarkan tidak ada di sana. Sungguh mengejutkan melihat sesuatu yang begitu nyata sebelumnya dan sekarang karena modernisasi, globalisasi, perubahan iklim yang terjadi, serta asimilasi, kita kehilangannya, " kata Enuol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *