Pandemi Covid 19 yang telah berlangsung beberapa bulan ini telah memukul perkonomian sebagian negara besar. Bahkan terdapat beberapa negara yang mengalami resesi ekonomi. Lantas, Apa itu resesi ekonomi?

Dikutip dari Buku Ekonomi Makro (2020) karya Andul Rahman Suleman dkk, resesi ekonomi adalah situasi terjadinya penurunan nilai pertumbuhan ekonomi rill menjadi negatif sepanjang sepertiga tahun berturut turut. Dalam perekonomian, semakin lama situasi resesi ekonomi berlangsung, akan berakibat terjadinya depresi ekonomi. Hal ini akan mendorong terjadinya istilah economy collapse atau kebangkrutan dalam ekonomi.

Dikutip dari , ada beberapa tanda tanda awal terjadinya resesi. Tanda tanda tersebut yakni dapat tercemin dari: Indeks bursa efek turun terus menerus

Banyak barang ditawarkan, banyak kredit ditawarkan Mulai pemutusan hubungan kerja Mulai penutupan usaha

Indikator ini disebut leading indicator pasar ke arah bearish market. Penurunan kegiatan ekonomi mungkin hanya berlangsung beberapa bulan, biasanya kurang dari enam bulan. Setelahnya, kemudian membaik kembali, sehingga belum masuk siklus resesi ekonomi.

Namun, apabila dalam enam bulan krisis ekonomi masih belum membaik, maka dikatakan sedang memasuki siklus resesi. Resesi ekonomi dapat terjadi beberapa bulan sebelum membaik atau pulih kembali. Apabila resesi sudah berjalan 18 bulan dan ternyata belum pulih juga, maka hal tersebut merupakan tanda krisis ekonomi akan lebih parah.

Selain itu, jika sudah melewati 18 bulan dan belum selesai atau belum ada tanda tanda akan membaik, berarti siklus akan memasuki depresi ekonomi. Depresi ekonomi yaitu suatu keterpurukan ekonomi yang akan lebih panjang lagi atau memasuki siklus depresi. Saat ini setidaknya ada lima negara yang resmi masuk jurang resesi, sebagaimana dikutip dari .

Kelima negara ini yakni: Berdasar laporan Kantor Statistik Federal Jerman, pertumbuhan ekonomi Jerman minus 10,1 persen pada kuartal II 2020. Melanjutkan pelemahan ekonomi dari kuartal sebelumnya yang tercatat minus 2 persen.

Realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020, merupakan yang terendah sejak Kantor Statistik Federal Jerman mengumpulkan data pertumbuhan ekonomi per kuartal pada tahun 1970. Merosotnya perekonomian Jerman disebabkan anjloknya belanja konsumen, investasi korporasi, dan ekspor. Ekspor dan impor barang dan jasa anjlok pada kuartal II 2020.

Konsumsi rumah tangga dan investasi alat produksi korporasi juga merosot. Meskipun demikian, belanja pemerintah mengalami peningkatan. Pemerintah Jerman memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan minus 6,3 persen sepanjang tahun ini, dan akan rebound alias tumbuh positif 5,2 persen pada tahun 2021.

Amerika Serikat resmi masuk jurang resesi setelah pertumbuhan ekonomi dilaporkan minus 32,9 persen pada kuartal II 2020. Pada kuartal sebelumnya AS sudah mencatatkan pertumbuhan ekonomi minus 5 persen. Terjadi penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga, ekspor, produksi, investasi, serta belanja pemerintah lokal maupun negara bagian, sehingga menekan produk domestik bruto (PDB) AS lebih lanjut.

Konsumsi rumah tangga merosot 25 persen, indeks harga konsumen anjlok 1,5 persen, impor tercatat melonjak 10 persen, dan ekspor hanya naik 9,4 persen di kuartal II 2020. Pendapatan rumah tangga melonjak berkat bantuan langsung tunai dari pemerintah AS sebagai respons terhadap dampak pandemi virus corona. Ini adalah periode terburuk perekonomian AS, bahkan bila dibandingkan dengan periode Depresi Besar dan Resesi Besar.

Sebagai perbandingan, kuartal terburuk perekonomian AS selama Krisis Keuangan Global tahun 2008 adalah minus 8,4 persen pada kuartal IV 2008. Pada kuartal I tahun 1958, pertumbuhan ekonomi AS minus 10 persen. Sementara itu, rekor terburuk perekonomian AS adalah pada kuartal II tahun 1921.

Pertumbuhan ekonomi Singapura mengalami kontraksi di kedua kuartal 2020. Hal ini membuat Singapura resmi mengalami resesi. Pada kuartal I 2020 pertumbuhan ekonomi Singapura tercatat minus 0,7 persen, kemudian berlanjut minus 12,6 persen di kuartal II 2020.

Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 lebih buruk dari ekspektasi ekonom yang memperkirakan akan berada di kisaran 10,5 persen. Resesi Singapura dipicu kebijakan circuit breaker untuk mencegah penularan virus corona (covid 19) sehingga menyebabkan permintaan eskternal melemah di tengah perekonomian global yang juga loyo. Pandemi Covid 19 turut memukul negara dengan perekonomian terbesar kempat di Asia ini.

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan menyusur 3,3 persen pada akuartal II 2020, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang terkontraksi 1,3 persen. Bank of Korea melaporkan, penurunan pertumbuhan ekonomi per kuartal ini menjadi yang paling tajam sejak resesi 1998. Ekspor merupakan kontribusi terbesar ekonomi Korea Selatan merosot hingga 16,6 persen.

Investasi konstruksi turun 1,3 persen, investasi dalam bentuk modal merosot 2,9 persen, dan output manufaktur serta jasa masing masing turun 9 persen dan 1,1 persen. Satu satunya kinerja perekonomian yang positif adalah konsumsi swasta yang meningkat 1,4 persen Hong Kong kian terperosok ke jurang resesi ekonomi di tengah pandemi covid 19.

Negara ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif 9 persen pada kuartal II 2020. Pada tiga kuartal sebelumnya Hong Kong melaporkan pertumbuhan ekonomi yang negatif, yakni minus 9,1 persen di kuartal I 2020, minus 3 persen di kuartal IV 2019, dan minus 2,8 persen di kuartal III 2019. Resesi pada 2019 dipicu oleh demo besar besaran anti pemerintah yang berlangsung selama beberapa bulan.

Aksi protes itu memukul sektor ritel dan pariwisata Hong Kong. Kemudian ekonomi semakin diperburuk dengan perang dagang AS dan China. Memasuki 2020, pelemahan ekonomi Hong Kong semakin dalam akibat pandemi Covid 19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *