Publik masih berduka atas kepergian Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono tutup usia pada Minggu 19 Juli 2020 di usia 80 tahun. Sang legenda meninggal dunia karena memiliki riwayat penyakit yang membuat penurunan fungsi organ.

Sapardi Djoko Damono langsung menjadi trending di berbagai media sosial menyusul kabar kepergiannya. Publik merasa kehilangan, tentu pihak keluarga lebih merasakan duka. Terlebih sang putri yang bernama Bawuk.

Dirinya pun menjawab pertanyaan media di Tempat Pemakaman Bukan Umum ( TPBU) Giri, Minggu (19/7/2020). Sang putru ditanya mengenai kenangan tak terlupakan dengan sang Ayah. Bawukberbagi cerita yang tidak bisa dilupakan saat sang ayah belum berpulang.

Bawuk menjelaskan bahwa momen yang paling diingat ketika bersama ayahnya saat dirinya ingin berkunjung ke pameran buku di negaraJerman. Menurutnya, pada saat itu dirinya bersama sang ayah terjebak di lift sehingga sempat sedikit menimbulkan rasa kepanikan. "Kenangan yang paling diingat adalah ketika menghadiri Frankfurt book fair di tahun 2015, saya menemani kan.

Jadi suatu pagi kita ingin menghadiri pameran tersebut. Namun pas di lift, tiba tiba lift mati di tengah jalan," ujarnya saat pemakamanSapardiDjokoDamono, di Tempat Pemakaman Bukan Umum ( TPBU) Giri, Minggu (19/7/2020). Lebih lanjut,Bawukmengatakan, untuk menghilangkan rasa panik,SapardiDjokoDamonojustru mengajak anak bungsunya melakukan selfie.

"Bukannya panik, tapi kami tertawa dan selfie. Saya bertanya kapan diselamatkan ya. Tapi tak lama petugas langsung menyelamatkan kami. Itu lucu sih," jelasnya.

Sementara itu, jenazah sastrawan Indonesia,SapardiDjokoDamonodimakamkan di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU), Giri Tama, Kabupaten Bogor. Setibanya di TPBU, pihak keluarga langsung melakukan prosesi pemakaman yang diawali dengan doa dan diakhiri dengan prosesi tabur bunga. Sapardi Djoko Damono menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Jenazah saat ini disemayamkan di Kompleks Dosen UI Ciputat Jl. Ir . H. Juanda no. 113, Tangsel. Sapardi Djoko Damono lahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta. Ia adalah sastrawan besar Indonesia sekaligus akademisi dari Universitas Indonesia.

Sapardi Djoko Damono pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1999 2004. Beberapa puisinya yang terkenal di masyarakat seperti Hujan Di Bulan Juni, Aku Ingin, Yang Fana Adalah Waktu, dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *