Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan sebuah rekomendasi untuk tidak menggunakan Ibuprofen untuk mengobati gejala Covid 19. Diketahui, pemerintah Perancis secara resmi memperingatkan obat obatan anti inflamasi untuk menangani orang orang yang menunjukkan gejala Covid 19. Pemilihan obat obatan anti inflamasi tersebut justru akan memperburuk efek virus pada tubuh.

Peringatan itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan Perancis, Olivier Veran. Disimpulkan dalam penelitian terbaru di jurnal kedokteran The Lancet, jika peningkatan enzim dengan obat obatan anti inflamasi seperti Ibuprofen hanya akan memperparah infeksi virus corona. Masih dikutip di France24, juru bicara sebuah perusahaan farmasi Inggris yang memproduksi Ibuprofen dengan merek Nurofen, Reckitt Benckiser, mengatakan kehawatiran yang sama.

Pihaknya menyadari ada kehawatiran yang ditimbulkan akibat penggunaan steroid dan produk anti inflamasi non steroid termasuk Ibuprofen, dalam menangani gejala Covid 2019. "Keselamatan konsumen adalah prioritas nomor satu kami. Ibuprofen adalah obat yang aman dan telah digunakan selama lebih dari 30 tahun untuk meredakan sakit dan nyeri, termasuk dalam kasus virus," ujar Benckiser. Selain itu, Benckiser juga belum percaya jika ada bukti ilmiah yang menyebutkan penggunaan Ibuprofen dapat memperbanyak jumlah kasus Covid 19 di dunia.

Sementara itu, Benckiser akan mengeluarkan informasi dan panduan tambahan terkait penggunaan produk. Juru Bicara WHO, Christian Lindmeier menyebut pakar kesehatan PBB masih mencari tahu untuk bisa memberi panduan lebih lanjut terkait penanganan gejala Covid 19. WHO tidak merekomendasikan penggunaan Ibuprofen untuk mengatsi gejala corona.

Namun, WHO justru merekomendasikan penggunaan parasetamol untuk meringankan gejala. Apabila terjadi demam yang merupakan satu di antara gejala Covid 19, cukup gunakan parasetamol. Hindari untuk mengonsumsi Ibuprofen.

Meskipun parasetamol direkomendasikan, namun harus diminum sesuai dosis yang tepat. Karena jika terlalu banyak justru akan merusak fungsi hati. Mengutip dari , sebuah studi dilakukan terhadap 10 pasien di rumah sakit Zhongnan, Universitas Wuhan.

Dalam studi tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi pola khas dari gejala virus corona pada setiap individu. Gejala yang sama dialami oleh pasien adalah demam dengan suhu yang tinggi mencapai 99 persen. Sementara itu, lebih dari setengahnya mengalami batuk kering.

Sepertiga dari jumlah tersebut juga ada yang mengalami nyeri otot dan kesulitan bernapas. Penelitian lain yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) China yang menunjukkan, sekitar 80 persen kasus virus corona ringan. Sementara, 15 persen pasien menderita kasus yang parah, dan 5 persen menjadi sakit kritis.

Untuk lebih mudah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus corona, simak ciri ciri yang ditimbulkan dari hari ke hari. Seseorang yang terinfeksi virus corona akan mengalami demam. Tubuh juga mulai merasakan kelelahan, nyeri otot, hingga batuk kering.

Beberapa di antaranya ada yang mengalami diare dan mual. Beberapa pasien terkadang mengalami mual dan diare pada hari kedua setelah terinfeksi. Di hari kelima, seseorang yang terinfeksi virus corona akan mengalami kesulitan bernapas.

Kondisi tersebut biasanya terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Atau beberapa di antaranya memiliki riwayat penyakit lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Wuhan, pada hari ketujuh biasanya pasien mulai dirujuk ke rumah sakit.

Di hari kedelapan para pasien dengan kondisi parah, 15 persennya akan mengalami sindrom gangguan pernapasan akut. Ada cairan memenuhi paru paru. Sering kali sindrom ini akan berakibat fatal.

Pada hari kesepuluh, beberapa pasien mengalami gejala yang semakin memburuk. Jika semakin memburuk pasien akan dibawa ke ICU. Beberapa pasien mulai mengeluh gangguan di bagian perut.

Sementara itu, pasien juga kehilangan nafsu makan. Pasien akan mengalami kondisi yang membaik setelah menjalani perawatan kurang lebih 2,5 minggu. Biasanya pasien akan merasa sembuh dan keluar dari rumah sakit.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *