Peristiwa pengambilan paksa jenazah pasien Covid 19 terjadi di RSUD Raden Mattaher Jambi, Selasa (1/9/2020). Video jenazah pasien dijemput paksa itu kemudian viral di media sosial netizen Jambi. Jenazah pasien corona berinisial IL (6) itu dijemput menggunakan sepeda motor oleh keluarganya.

Peristiwa penjemputan paksa jenazah oleh pihak keluarga, terjadi di kamar mayat RSUD Raden Mattaher Jambi. Pihak keluarga IL, warga RT 13 Kelurahan Rawasari keberatan jika jenazah akan dimakamkan dengan protokol Covid 19. Menurut mereka, pasien meninggal dunia bukan karena Covid 19.

"Sudah tadi malam hasilnya tidak karuan. Itu tuh mayat bukannya batang pisang," ujar Abdul Sidik, keluarga almarhum. Apa sebab keluarga bersikeras penyebabnya bukan Covid 19? Abdul Sidik membeberkan bahwa jenazah sudah sejak tahun 2016 lalu mengalami sakit sejenis tumor di bagian kepala.

Pihak keluarga menganggap IL meninggal bukan karena Corona Virus Disease (Covid 19). "Kok tiba tiba begitu masuk dibilang dikuburkan secara Covid 19, belum ada hasil (swab), baru pagi ini menuju swab, kenapa dari tadi malam belum selesai selesai," jelasnya. Menurut Sidik, pihak keluarga sudah menunggu sejak sekitar pukul 22.00 WIB sampai dengan sekitar 10.00 pagi kemarin.

"Tadi ngomong setengah sepuluh, oke. Tiba tiba pihak rumah sakit mengatakan minta waktu 1 jam dengan alasan tidak bisa dibaca sementara mayat ditelantarkan, kena pas sudah diplastik," jelasnya. Sementara itu, pihak RSUD Raden Mattaher Jambi melalui Wakil Direktur Pelayanan dr Dewi Lestari akhirnya menemui pihak keluarga serta menyampaikan memang bahwa hasil rapid test jenazah itu menunjukkan reaktif. "Kalau rapidnya positif, tentu kita berlakukan protap Covid 19. Kita ini sebenarnya untuk menjaga jaga, saya sudah koordinasi dengan gugus tugas. Insya Allah kalaupun hasilnya negatif aman kita semua, nah takutnya hasil swabnya positif," terangnya.

Kemudian terkait dengan protes pihak keluarga terkait lambannya hasil pemeriksaan swab, dia mengatakan hal itu karena prosedur. "Karena kan untuk pemeriksaan itu ada prosedurnya dan terkait alat, jadi 1 jam lagi," ujarnya ketika berdikusi dengan pihak keluarga jenazah yang tampak dihadiri oleh pihak kepolisian. Dr Dewi pun meminta agar dibuat surat pernyataan secara tertulis dari keluarga.

"Pernyataan dari pihak keluarga bahwa memang memaksa untuk membawa jenazah, kalau dari gugus saya sudah koordinasi. Kalau dari rumah sakit tetap menunggu hasil swab. Tetapi keluarga punya pertimbangan," tambahnya. Dewi pun mengakui memang pasien meninggal sudah tadi malam, namun untuk pengambilan spesimen menuju swab baru pagi ini. "Rapid nya positif makanya kita berlakukan dengan protap Covid 19," ujar dia.

Pihak RSUD Raden Mattaher Jambi sempat menahan jenazah pasien inisial IL (6). Seharusnya, jenazah warga Kelurahan Rawasari itu dikebumikan dengan protokol kesehatan Covid 19 (jenazah pasien dijemput paksa). Hal itu dilakukan karena hasil rapid test almarhum reaktif dan menunggu hasil uji swab.

Namun pihak keluarga dari IL merasa keberatan jenazah akan dimakamkan dengan protap Covid 19 sehingga dijemput dan dibawa keluarga langsung ke rumah duka dan disertai surat pernyataan. Belum lama jenazah dibawa pulang oleh pihak keluarga ke rumah duka, ternyata hasil swab IL yang sempat menunggu sekitar 1,5 jam sudah ke luar dan dinyatakan negatif. "Iya hasil swab (jenazah) negatif," ujar Direktur RSUD Raden Mattaher dr Fery Kusnadi.

Wadir Pelayanan RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi dr Dewi Lestari juga mengatakan hal yang senada. "Iya, negatif. Alhamdulillah, sebenarnya itu saja yang kita khawatirkan kalau hasil positif," jelasnya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *